[INDONESIA] Tahu Sumedang - Makanan Tradisional Yang Menggugah Selera Lidah Modern!

Tahu Sumedang Menjadi Viral di Berbagai Daerah di Indonesia

      Tahu semedang menyimpan sebuah legenda yang erat kaitannya dengan kaum imigran asal China yang memasuki wilayah Priangan Timur termasuk Sumedang. Warga imigran asal Tionghoa tersebut berdasarkan sensus tahun 1930, di kota Sumedang telah mencapai jumlah 905 jiwa. Tahu berasal dari kata china yaitu "Tao Hu" yang artinya Tao : Kacang, Hu : Lumat (kacang yang di lumatkan). Sebagian orang china juga menyebutnya tahu yang berarti daging tanpa tulang, demikian menurut ahli tahu Sumedang Ong Yoe Kim. Asal usul tahu semedang berawal dari tahun 1900, saat Ong Kino imgran asal China / Tionghoa menginjakkan kakinya di kota Sumedang, Jawa Barat. Kegemaran dan ketrampilan Ong Kino membuat tahu di daerah asalnya china, di praktekan di tempat tinggalnya yang baru di kota Sumedang. Pada awalnya hanya bertujuan untuk konsumsi keluarga saja. Namun demikian karena banyak tamu yang berkunjung dirumahnya merasakan kelezatan tahu buatanya maka Ong Kino mempunyai ide memproduksi tahu lebih banyak untuk di jual kepada tetangga sekitar. Ong Kino mempunyai anak yang bernama Ong Bun Keng. Ong Bun Keng meneruskan usaha ayahnya tersebut dengan bekerja keras. Ditangan Ong Bun Keng usaha tahu milik ayahnya berkembang pesat sehingga Ong Bun Keng lebih dikenal sebagai cikal bakal tahu Sumedang.
Saat ini Tahu Sumedang telah terkenal di seantero pelosok Nusantara karena kelezatanya. Banyak bertebaran toko tahu dengan menamakan tahu Sumedang. Kelezatanya apakah sama dengan tahu yang diproduksi di sumedang, sebagian orang masih meragukanya. Tetapi sebagai pengganti kerinduan terhadap tahu Sumedang, tidak ada masalah. Tahu sumedang tidak dapat dipisahkan dengan nama besar Bun Keng meskipun telah tiada. Usaha Tahu Bungkeng sekarang di teruskan oleh anak cucu Ong Bun Keng salah satunya adalah Ong Ce Ciang yang lebih di kenal dengan sebutan Suryadi.
  • Bahan-bahan :


1.    Kedelai 1 kg
2. Air 40 liter dengan takaran untuk 1 kg kedelai diperlukan air sebanyak 45 liter. Ukuran tersebut dapat anda sesuaikan dengan kebutuhan anda.
3.    Penggumpal (untuk tahu Sumedang, digunakan bahan penggumpal biang)
4.    Antibusa (minyak kelapa sisa penggorengan hari sebelumnya)
5.    Pengawet
6.    Minyak Goreng
7. Bumbu yakni campuran kemiri, bawang putih dan garam yang dihaluskan dan dilarutkan dalam air rendaman tahu mentah siap goreng.
  • Cara membuat :
1.   Bersihkan kedelai dari kotoran atau benda asing seperti kerikil, pasir, kedelai pecah, berjamur, berlubang, dan busuk.
2.    Rendam kedelai dalam air dengan perbandingan 1 : 2 selama 3-5 jam atau cukup 1-2 jam
3.    Bersihkan kedelai hasil rendaman dengan air kemudian tiriskan.
4.  Giling kedelai sampai berbentuk bubur sambil masukkan air sedikit demi sedikit. Tampung dalam wadah anti-karat.
5.    Masukan bubur kedelai kedalam air panas atau mendidih sambil terus dipanaskan.
6.    Aduk kedelai sambil masukkan air dingin 3 ml, atau tambahkan minyak goreng sisa sebanyak 0,5 liter untuk mengatasi timbulnya busa.
7.    Rebus bubur kedelai sampai matang atau berwarna kuning pucat.
8.    Setelah matang, angkat dan saring bubur kedelai kemudian saring.
9.  Proses penyaringan dibantu dengan penambahan air panas sekitar 100 liter per gilingan pada ampasnya sampai memperoleh air penyaringan yang jernih.
-      Penggumpalan dan pengendapan tahu sumedang :
  1. Tambahkan larutan biang ke sari kedelai yang masih panas di dalam tempat penyaringan tahu sebanyak 4 ml per gilingan.
  2. Aduk hingga merata rata dengan arah yang tidak berubah sampai membentuk endapan atau menggumpal, biarkan gumpalan sari kedelai turun dan mengendap di dasar tempat penyaringan tahu selama 5-15 menit.
  3. Pisahkan gumpalan sari kedelai yang berada di dasar tempat penyaringan dari cairan sisa penggumpalan. Caranya dengan mengayak bambu yang dilapisi kain saring dibenamkan, kemudian ambil cairan dengan gayung.
  4. Tampung sebagian cairan sisa ke dalam tempat anti-karat untuk digunakan sebagai larutan biang.

Share:

0 komentar